Dukung Anak Cerdas dengan Menstimulasi Kecerdasannya

Memiliki anak yang cerdas sudah menjadi dambaan setiap orang tua. Tetapi cerdas yang bagaimana dulu. Bagi saya anak cerdas itu adalah anak yang tidak hanya cerdas dari sisi akademis saja, tetapi juga cerdas dalam mengolah emosi dan cerdas secara spiritual. Dengan begitu mereka tidak hanya tumbuh sebagai anak yang cerdas dalam berperilaku tetapi juga mampu berperilaku cerdas serta memiliki jiwa sosial yang tinggi.

Untuk mewujudkan #AnakCerdasItu dibutuhkan peran yang sangat besar dari orang tua, mengingat orang tua merupakan role model yang paling banyak menghabiskan waktu bersama anak. Sebagai bahan dalam mengembangkan kecerdasan seorang anak, orang tua perlu mengetahui bagaimana tingkat kecerdasan anak sehingga kita dapat menstimulasi sisi kecerdasaan anak yang masih kurang.

evrinasp-alfi

Pada awal tahun 2018 ini, saya dan pak suami sudah mengantarkan Alfi, anak kami yang saat ini sudah memasuki bangku sekolah SD, untuk mengikuti sebuah tes psikologi di salah satu konsultan pendidikan. Kebetulan itu merupakan salah satu rangkaian yang harus dilakukan oleh Alfi sebelum dia masuk sekolah.

Dari hasil pemeriksaan diketahui kalau tingkat kecerdasaan yang dimiliki Alfi berada di atas rata-rata yang artinya kecerdasan yang dimiliki berada lebih di atas rata-rata anak-anak seusianya. Alfi memiliki gaya belajar kinestetik, artinya dia menyenangi situasi belajar yang melibatkan motoriknya. Untuk membantu Alfi dalam kegiatan akademis, kami dapat menerapkan bimbingan belajar dengan teknik stratum yaitu cepat dan lebih banyak variasi atau tidak monoton sehingga dia tidak mudah bosan ketika sedang belajar.

Hanya saja, masih ada hal yang perlu ditingkatkan dalam diri Alfi terkait kecerdasaan emosionalnya. Saya dan keluarga dapat mengembangkan kecerdasan emosionalnya dengan memperkenalkan kembali akan ragam emosi yang biasa dialami dan membimbingnya untuk mengekspresikan emosi tersebut ke dalam cara yang tepat dan wajar.

Untuk memperkaya kecerdasan spiritualnya dapat dilakukan dalam kegiatan sehari-hari seperti mengajaknya untuk beribadah bersama, menceritakan kisah-kisah tauladan, berdiskusi tentang hal yang terkait dengan perspektif spiritual, mengajaknya melihat alam di sekitar, serta kegiatan lainnya.

evrinasp-alfi 3

Selain ketiga kecerdasaan tersebut, #DukungCerdasnya dapat dilakukan dengan mengidentifikasi kecerdasaan lainnya yang dikenal dengan multiple intelligence atau kecerdasan majemuk. Konsep kecerdasan majemuk ini pada awalnya diperkenalkan dalam buku The Multiple Intelligence yang ditulis oleh Dr. Howard Garner, seorang psikolog dari Universitas Harvard.

Kecerdasan majemuk memberikan gambaran bahwa semua anak memiliki kecerdasannya masing-masing sesuai dengan potensi di dalam diri. Hanya saja kita sebagai orang tua perlu mengetahui manakah kecerdasan yang kurang dari serangkaian kecerdasaan majemuk tersebut untuk membantu menstimulasinya. Dengan begitu apabila kecerdasan majemuk berkembang baik, maka anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang lebih mandiri, percaya diri, dan tangguh menghadapi tantangan.

Ada 9 kecerdasan majemuk yang perlu diketahui yaitu kecerdasan dalam musik, kecerdasan gerak tubuh, kecerdasan logika dan angka, kecerdasan gambar dan ruang, kecerdasan bahasa, kecerdasan antarpribadi, kecerdasan intrapribadi, kecerdasan memahami alam, dan kecerdasan moral.

Dari hasil identifikasi kecerdasan majemuk Alfi yang saya lakukan secara online, diketahui bahwa saya harus membantu Alfi untuk meningkatkan kecerdasaan moral serta kecerdasan gambar dan ruang karena memiliki nilai paling rendah dibandingkan nilai kecerdasan majemuk lainnya.

Untuk meningkatkan kecerdasan moral, saya dapat menstimulasinya dengan cara sederhana seperti menjelaskan mengapa suatu tindakan boleh atau tidak boleh dilakukan atau mengajak anak melakukan permainan yang menggunakan sebuah peraturan. Sedangkan untuk menstimulasi kecerdasan gambar dan ruang, saya dapat membantu menstimulasinya dengan cara mengajarkan arah, menceritakan kegiatannya sehari-hari melalui gambar, membuat karya dari barang bekas, mengajaknya mengenali bentuk motif, melakukan kegiatan bongkar pasang, dan lain-lain.

Selain membantu menstimulasi kecerdasan serta menjaga tumbuh kembangnya, saya bersama keluarga juga berusaha untuk menciptakan suasana penuh kasih sayang dalam aktivitas sehari-hari, termasuk saat menempatkan diri selaku orang tua kapan kami harus bersikap demokratis atau otoriter. Di sini kami harus jeli kapan harus demokratis dengan memberikan kesempatan kepada anak untuk berpendapat atau memilih sesuatu dan kapan harus otoriter terhadap hal-hal yang mungkin berbahaya baginya.

Dengan begitu kami sekeluarga berharap agar kelak dia dapat berkembang menjadi seseorang yang tidak hanya cerdas dalam berpikir dan bertindak, tetapi juga mampu menghadapi semua tantangan dengan tidak melupakan kehidupan di sekitarnya.

*Ditulis dalam 770 kata*

18 Comments

  1. Reply

    Ikut mendoakan agar Alif makin cerdas, kak Evrina.
    Produk cerebrofort ini juga kerap dikonsumsi para ponakanku untuk menjaga kesehatan dan ikut membantu lebih dapat berkonsentrasi belajar mereka dengan baik.

    • evrithink

      Reply

      Aamiin ya Rabb, makasih doanya, iya Alfi suka sama cerebrofort yang rasa jeruk, enak katanya

  2. Reply

    alif lucu ya mbak, gemash. semoga makin bertumbuh terus dengan sehat dan cerdas.
    tetap jadi ibu yang baik dan penuh kasih sayang ya mbak 🙂

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *