Pertanyaan “Kapan” yang Tak Berujung

pertanyaan-kapan

Source: http://photos.bucketlistly.com/tagged/india

Hampir semua orang akan senang apabila libur panjang telah tiba, apalagi untuk para pekerja yang membutuhkan istirahat di sela-sela waktu tertentu. Namun, tak semua orang bisa plong untuk berbahagia saat liburan hingga berkumpul bersama keluarga akibat sebuah pertanyaan yang dimulai dengan kata “kapan”. Bahkan banyak meme yang beredar mengenai pertanyaan tersebut, ada yang memasang tariff untuk menjawab pertanyaan kapan hingga siap ditenggelamkan. Tulisan ini memang receh sekali tapi perlu dibahas terutama bagi teman-teman yang mungkin paranoid saat pulang ke kampung halaman karena kurang suka dengan pertanyaan kapan tersebut.

Saya pribadi juga sudah pernah mengalami hal tersebut lho, bahkan sampai sekarang pertanyaan kapan juga masih menghantui. Ini sedikit cerita saya tentang pertanyaan yang diawali dengan kata “kapan” sepanjang hidup:

  1. Saat masih menjadi mahasiswa

“Kapan wisuda?” ini pertanyaan yang tidak terlalu membuat saya baper alias bawa perasaan karena alhamdulillah bisa lulus kuliah sesuai dengan target. Saat itu orang yang bertanya mengenai kapan wisuda ini banyak dari teman hingga keluarga. Berbeda dengan pak suami, dia paling males apabila ditanya kapan wisuda karena sudah dua kali penelitiannya gagal sehingga harus mengulang penelitian yang berujung pada mundurnya waktu wisuda. Awalnya dia santai saja, tapi lama-kelamaan jadi malas katanya jika ditanya kapan akan diwisuda.

  1. Setelah lulus kuliah, belum bekerja

Jangan dikira pertanyaan kapan akan selesai saat saya sudah diwisuda. Pertanyaan selanjutnya yang cukup membuat baper saat itu adalah “kapan kerja” yang diterjemahkan menjadi sudah kerja di mana?. Kalau teman yang bertanya sih saya masih cuek, tapi kalau yang bertanya itu keluarga rasanya agak gimana gitu. Apalagi saat itu saya baru saja resign setelah tiga bulan bekerja di Jakarta dan belum ada lagi tempat yang saya hinggapi untuk mencari segenggam emas. Syukur alhamdulillah dalam hitungan bulan saya mulai bekerja lagi dan pertanyaan kapan tersebut perlahan mulai hilang.

  1. Setelah bekerja, saat masih single

Nah ini pertanyaan yang bikin males jawab kalau saya pulang ke rumah saat hari raya. Keluarga pasti akan bertanya “kapan nikah”. Duh ampun deh, saat itu bukannya saya tidak mau, sudah ada kok target tersendiri kapan saya menikahnya. Hanya saja saya masih ingin bekerja dulu sambil mengeksplorasi a.k.a jalan-jalan mumpung masih muda. Berapa kali pertanyaan tersebut dilontarkan saat sedang kumpul keluarga. Baru deh setelah tiga tahun bekerja pertanyaan tersebut hilang karena saya akhirnya menikah juga.

  1. Setelah menikah dan belum punya anak

Ini juga pertanyaan yang bikin baper untuk pasangan suami istri yaitu kapan punya anak atau sudah punya anak belum? Sebelum pindah ke Bogor, saya dan pak suami tinggal di kompleks perkebunan tebu di Indramayu. Sebagai pasangan yang baru menikah, kami sering menjadi perhatian para keluarga di sekitar. Awalnya sih saat ditanya “sudah isi belum?” saya cuek saja, tapi lama-kelamaan karena banyak yang bertanya juga akhirnya saya mulai jengah. Padahal saat itu kami baru beberapa bulan saja menikah dan masih ingin menikmati suasana pengantin baru *ihirrr, bukan maksud ingin menunda atau alasan lainnya. Baru deh setelah delapan bulan pernikahan, saat perut saya mulai ada isinya, pertanyaan itu mulai sirna berganti dengan mau lahiran normal atau caesar, tapi yang ini tidak usah dibahas haha.

  1. Sudah punya anak satu, lalu?

Anaknya sudah besar lho, buruan nambah lagi nanti jaraknya kejauhan”, itu adalah beberapa pernyataan sekaligus sebuah sinyal yang mewakili pertanyaan kapan nambah anak lagi. Sekarang, itu adalah pertanyaan yang sering saya terima baik dari teman kantor maupun keluarga. Saya juga ingin menambah anak supaya rumah semakin ramai. Tetapi memang agak diplanning disesuaikan dengan waktu yang tepat, mengingat, menimbang, dan memutuskan kalau pekerjaan saya saat ini tidak mudah dihadapi oleh seorang ibu hamil. Insyaa Allah jika waktunya tiba, sayapun sangat berharap agar adiknya Alfi segera hadir ke dunia, maka doakan saja ya teman-teman.

Sementara ini baru lima pertanyaan dengan awalan kata kapan di atas yang sering saya dengar dari orang-orang di sekitar. Bisa jadi pertanyaan lainnya akan datang lagi jika waktunya sudah tiba.

Supaya tidak baper saat ditanya dengan beragam pertanyaan tersebut terutama saat pulang kampung, saya ingin berbagi bagaimana cara saya menangkis semua pertanyaan tersebut agar semua happy.

  1. Jika menghadapi orang yang baru bertanya satu kali mungkin dimaklumi sebagai bentuk perhatian dari yang baru bertanya, maka jawab saja seperlunya dengan tenang.
  2. Untuk menghadapi orang yang sudah bertanya beberapa kali, jawab saja yang singkat dan supaya tidak berlanjut maka alihkan ke hal lain atau bertanya balik tentang dirinya atau keluarganya.
  3. Apabila sedang kumpul keluarga atau bersama teman dan mendapatkan sinyal pertanyaan kapan akan keluar, maka kita bisa sejenak keluar dari barisan misalnya hendak mengambil sesuatu atau tiba-tiba mengerjakan sesuatu.
  4. Jika sedang tidak ingin menjawab atau keluar dari barisan, maka dapat dengan memberikan senyuman saja, toh badai pasti akan berlalu *halah.

Yak teman-teman itu tadi adalah sederet pertanyaan kapan yang pernah saya dapatkan sejak dulu saat masih single hingga sekarang saat sudah berstatus double. Supaya hati kita enak, anggap saja bahwa pertanyaan tersebut merupakan bentuk perhatian dari teman atau keluarga yang peduli dengan keadaan kita. Apapun kondisi kita saat ini insyaa Allah itu adalah hal terbaik yang sudah diberikan oleh Sang Maha Kuasa, maka bersyukurlah dan jangan bersedih. Semoga tulisan ini bermanfaat ya.

13 Comments

  1. Reply

    Kalau ada yg tanya kapan, untuk apapun itu… jwb nya gampang “InsyaAllah.. doakan saja yg terbaik” kalau lg malas dan bosan jawb, tinggal menghindar aja. Hehe

  2. Reply

    Yang nanya mungkin cuma basa basi, abis nanya trus lupa..
    Yang ditanyain kepikiran terus siang malam..hahaha
    Setuju dengan tips diatas.

  3. Reply

    Masih mending ya kalau abis nanya, trus lupa kita jawab apa. Alias cuma basa-basi (yang lama-lama sih jadi basi beneran :D). Yang paling bikin kesal itu, abis nanya, kita jawab, trus dia jadiin bahan rumpian di belakang kita. Pernaaaahhhh…ngalamin yang begitu.

  4. Reply

    Disikapi dgn kepala dingin aja pertanyaan spt itu, ntar yg nanya bakal bosen sendiri :).

    Habisnya kalau diladeni pasti malah menjadi 🙁

  5. Pingback: Menjadi Lebih Hidup Bersama Keluarga - evrithink.co

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *